Lombok Tengah– Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri, memimpin upacara gelar pasukan pengulangan bencana dan pengurangan resiko bencana, di halaman kantor Bupati Loteng, senin 18/12/2023.
Dalam sambutannya Bupati Lombok Tengah mengingatkan bahwa penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama.
,”Oleh karena itu, kerja sama antara pemerintah dan pihak non pemerintah merupakan hal penting dalam upaya pengurangan risiko bencana, “ucapnya
saat apel siaga bencana pada Senin (18/12/2023)
Menurutnya, melalui apel gelar pasukan tersebut diharapkan dapat memberikan semangat yang sama sehingga bisa maksimal menjalankan fungsi dan peran masing-masing, guna menunjang tugas dan pengabdian kepada masyarakat.
Dimana berdasarkan kajian resiko bencana (KRB) tahun 2023 di Lombok Tengah terdapat 10 potensi ancaman yaitu gempa bumi, tsunami, erupsi gunung rinjani, banjir, kekeringan, tanah longsor, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan epidemi wabah penyakit. Disadari betul bahwa segala bentuk bencana dapat terjadi kapan saja, walaupun kita tidak pernah berharap hal itu akan terjadi, namun setiap kejadian baik berupa bencana tidak jarang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.
,”Hal tersebut dengan tegas dinyatakan oleh Allah SWT dalam Qur’an, di antaranya dalam surat ar-rum ayat 41 yang artinya “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, ungkapmya
,”Dengan memahami ayat ini, satu benang merah yang dapat kita tarik adalah kita diwajibkan untuk mengedepankan tindakan- tindakan preventif/pencegahan atas setiap potensi bencana dan musibah yang dapat terjadi di lingkungan kita” ,tambahnya.
Karena itu Bupati mengajak semua untuk bersama-sama melakukan tindakan pencegahan bencana sejak dini, diantaranya dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, menjaga pohon-pohon dari pembalakan liar, sehingga kemungkinan terjadinya bencana alam dapat diminimalisir.
Salah satu kelompok yang memiliki resiko tinggi terdampak akibat bencana adalah kaum ibu dan anak-anak lansia, disabilitas dan wanita hamil, kelompok ini seharusnya dapat lebih terlindungi minimal mereka memahami dan mampu melaksanakan prinsip-prinsip penyelamatan diri sendiri ketika bencana terjadi, oleh karena itu penting adanya sosialisasi, edukasi dan pelatihan mitigasi bencana secara masif dan berkelanjutan terhadap seluruh komponen masyarakat terutama kaum rentan korban bencana.
Metode pendekatan psikologis dan trauma healing pasca bencana, kegiatan dapur umum dan kegiatan lain yang berpotensi memperkecil korban juga perlu dilakukan.
,”Mari tingkatkan komponen, pertahankan dan senantiasa kiprah dan partisipasi dalam upaya penanggulangan bencana secara proposional sesuai eksistensinya. bencana adalah urusan bersama untuk kemanusiaan kolaborasi harmonis (pentahelik) antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akedimisi dan unsur pers akan menguatkan tercapainya tujuan sebagai lombok tengah tangguh bencana,” ajaknya
,”Kepada segenap perangkat daerah dalam jajaran pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, diminta untuk semakin mengedepankan perspektif kebencanaan sesuai ruang lingkup tugas dan binaan wilayah masing-masing. dengan demikian kemungkinan-kemungkinan buruk yang tidak dikehendaki sebagai akibat terjadinya bencana dapat di tekan seminimal mungkin,” pungkasnya.