Lomboknesia.id- Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Enik Ermawati, menegaskan bahwa The Mandalika tidak bisa hanya mengandalkan ajang MotoGP sebagai daya tarik utama wisata. Menurutnya, kawasan tersebut membutuhkan atraksi baru dan inovasi berkelanjutan agar tetap menarik bagi wisatawan.
“Saya di sini mengandalkan MotoGP saja itu rasanya sudah cukup ya? Butuh atraksi-atraksi lain, butuh selalu berinovasi,” ujarnya.
Ia mengungkapkan pernah berdiskusi dengan salah satu pengelola wahana bermain yang menyampaikan bahwa setiap enam bulan mereka harus menghadirkan wahana baru. Hal itu dilakukan karena karakter wisatawan, khususnya di Indonesia, cenderung cepat bosan dan selalu mencari pengalaman baru.
Menurutnya, semangat tersebut kini mulai diwujudkan oleh ITDC dalam pengembangan kawasan Mandalika. Sebagai destinasi pariwisata prioritas nasional yang telah ditetapkan dalam RPJMN, Mandalika harus terus berevolusi melalui inovasi-inovasi yang relevan dengan tren.
Ia mengapresiasi langkah ITDC yang menghadirkan berbagai fasilitas baru seperti lapangan padel, lapangan basket, restoran sehat (healthy restaurant), hingga coworking space.
“Saya pikir inovasi-inovasi seperti ini harus selalu digerakkan dan selalu harus dihadirkan di Mandalika,” katanya.
Wakil Menteri Pariwisata menekankan bahwa kawasan Mandalika harus menjadi destinasi yang inklusif dan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segmen tertentu. Dengan demikian, perputaran ekonomi yang tercipta dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat Lombok Tengah maupun Nusa Tenggara Barat secara umum.
Ia juga mengapresiasi komitmen ITDC dalam mendampingi pelaku UMKM hingga mampu meningkatkan kapasitas usaha, bahkan sebagian di antaranya telah berhasil menembus pasar ekspor.
“Saya senang juga dengan teman-teman ITDC yang selama ini selalu mendorong dan mendampingi UMKM sehingga mereka bisa naik kelas. Bahkan tadi ada yang bisa ekspor produknya, itu luar biasa,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pembangunan sektor pariwisata merupakan proses jangka panjang yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Ia mencontohkan Bali yang membutuhkan waktu hingga sekitar satu abad untuk berkembang menjadi destinasi wisata dunia, namun hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, ia menilai kolaborasi seluruh unsur pentahelix menjadi kunci keberhasilan pembangunan pariwisata, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, asosiasi, hingga masyarakat.
“Kalau kita ingin menciptakan pariwisata yang semakin sukses, semakin berkualitas, dan menghadirkan multiplier effect kepada masyarakat, maka semuanya harus berkolaborasi,” tegasnya.
Ia juga menitipkan pesan kepada ITDC agar terus menjalin komunikasi dan sinergi dengan pemerintah daerah, asosiasi, serta masyarakat sekitar sehingga setiap pengembangan bisnis di Mandalika dapat berjalan baik sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang luas.
Menutup sambutannya, Wakil Menteri Pariwisata menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran ITDC atas berbagai inovasi yang telah dilakukan dalam mengembangkan kawasan The Mandalika.
“Sekali lagi, selamat kepada ITDC,” tutupnya.









